Minggu, 18 Maret 2012

HIKMAH PEMBERONTAKAN G-30-S/PKI

Jika Kita merenung kembali mengenai sejarah Indonesia pada masa lalu. Pasti Kita akan mengetahui sedikit banyaknya mengenai sebuah tragedi pemberontakan PKI pada tanggal 30 september 1965. Tragedi itu dapat kita renungi sebagai sebuah ujian dan cobaan terhadap sebuah bangsa yang ingin mengalami perubahan yang signifikan dengan jargon “REVOLUSI”. Revolusi lahir karena sebuah kondisi Negara/bangsa yang tidak kondusif dan stabil, baik dari sisi politik, ekonomi, sosial-kultural dan lain-lain.
Pada waktu itu, gerakan itu lahir karena PKI ingin menguasai bangsa Indonesia dengan melakukan pemberontakan. Dengan berbagai cara ditempuh oleh PKI yang dipimpin oleh D.N Aidit. Pemberontakan yang dimulai pada tahun 1948 ini terus berupaya untuk mengusai Negara Indonesia. Ketika itu kelompok ini mengikuti Pemilihan Umum pada tahun 1955 dan akhirnya berhasil menjadi partai terbesar ke-empat setelah PNI, MASYUMI dan NU.
Pada era demikrasi terpimpin PKI melakukan gerakan penyusupan ke berbagai lembaga-.lembaga politik, sosila budaya bahkan ke anggkatan bersenjata. Dengan menggunakan biro khusus PKI berhasil menghasut Bung Karno untuk menyingkirkan lawan-lawan politik PKI. Akhirnya Bung Karno membubarkan partai MASYUMI dan PSI. Tidak hanya itu PNI pun berhasil di pecah belah dengan menyusupkan Ir. Surachman ke dalam tubuh PNI.
Dengan power yang cukup kuat, PKI terus melakukan upaya yang jitu dengan membuat fitnah terhadap para petinggi angkatan darat. Mereka menuduh bahwa angkatan darat telah mendirikan Dewan Jenderal yang akan melakukan cup d’etat terhadap Presiden Soekarno dan juga mengatakan bahwa para anggotanya adalah agen nekolim. Dengan fitnah ini kondisi politik di tubuh angkatan darat pada waktu itu mulai goncang.
Pada puncaknya pada tanggal 1 Oktober 1965 dini hari gerakan PKI yang dipimpin oleh Letnal Kolonel Untung Soetopo, memerintahkan kepada seluruh anggota gerakan PKI mengadakan penculikan dan pembunuhan terhadap enam perwira tinggi dan seorang perwira anggkatan darat. Para perwira itu disiksa, dibunuh dan dibawa ke lubang buaya.
Sungguh mengerikan yang terjadi pada gerakan 30-S-PKI ini, karena bisa kita lihat bahwa dalam perebutan kekuasaan, seseorang bisa membunuh orang lain yang tidak berdosa. Apalagi musuh politik, pasti lebih kejam lagi. Apakah perebutan kekuasaan itu harus menggunakan cara itu?
Dengan melihat realitas sekarang ini, memang telah terjadi perebutan kekuasaan ditingkat elit politik. Tapi dengan cara yang berbeda. Kalau PKI membunuh secara konkret, sedangkan elit sekarang membunuh secara abstrak tapi dampaknya sangat luas. Misalnya politik yang digunakan dengan cara politik “dagang sapi” atau “bagi hasil” kekuasaan.
Sungguh ironis jika sejarah kelam terulang kembali. Walaupun dengan design dan methode yang berbeda. Tapi kita berharap dan berdoa, ada hikmah yang tersirat dibalik sebuah peristiwa dan perjalanan panjang 66 tahun sejak bangsa ini merdeka. Semoga bangsa ini terus memperbaiki diri dengan merevolusi SDM yang tidak berkualitas, ekonomi yang tidak merakyat, dan moral yang tidak sesuai dengan UU 1945 dan nilai-nilai Pancasila. Bangsa ini sudah terlalu lelah dalam sebuah jalan cerita yang menyedihkan. Semoga akhir dari sejarah dan kisah bangsa ini berakhir ROMANTIS, SEJAHTERA, DAMAI dan HAPPY ENDING.

Inspirated by
1.    Tim Penyusun, Sejarah Nasional dan Umum, (Jakarta, Bumi Aksara, 2000)
2.    Mass Media
3.    Nurikhsan , Fitron, Mencurigai Kekuasaan.(Jakarta, Global Media Profetika, 2009)

                                                                                     By M. ROBI. B
                                            (Pengamat Amatir mengenai pendidikan, ekonomi dan sosial)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar